Senin, 25 Mei 2015

Bagaimana Meringankan Masalah?




KISAH GARAM DAN DANAU

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “Kenapa kau selalu murung nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini  hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya”, jawab sang murid muda.
Sang guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam seperti yang diminta sang Guru.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.”Asin, dan perutku jadi mual,”jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku. “Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.” Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau itu,”kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,”Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali,”kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak, sama sekali,”kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam
Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya qalbu (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.

Sabtu, 23 Mei 2015

Menjadi Guru

Beruntunglah Anda Menjadi Guru



Diceritakan, pada saat itu manusia sedang berbaris menunggu keputusan Pengadilan Tuhan. Penghitungan dilakukan, palu kepastian hukum telah diayunkan, pertanda setiap manusia telah mengetahui ke mana harus melangkah…ke surga atau ke neraka.
Pada barisan ke surga, nampak wajah manusia yang berseri-seri…Mereka membayangkan bagaimana keindahan alam surgawi yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbayang oleh hati dan pikiran manusia. Di sana semua keinginan terpenuhi, sungai yang mengalir terdiri atas empat macam air, sungai yang mengalirkan air susu, sungai yangmengalirkan madu, sungai yang mengalirkan arak suci dan sungai yang mengalirkan air putih dan jernih.
Pohon di surga berbalikan dengan pohon di bumi. Kalau di surga, akar pohon justru di atas, sedangkan buahnya menjulur ke bawah. Ketika ahli surga ingin makan, maka Allah langsung menghidangkan makanan seratus piring, makanan yang manis tanpa penyakit gula, yang lezat tanpa menambah kolesterol, yang menghangatkan badan tapi tidak menyebabkan darah tinggi.
Bayangan kenikmatan itu menjadikan calon penghuni surga ingin segera memasukinya. Malaikat penjaga surga yang ramah namun berwibawa mempersilakan manusia satu persatu memasuki pintu surga. Namun sebelum mereka melangkah ada pertanyaan dari malaikat yang harus dijawab oleh calon penghuni surga.
Pada saat itu, berjalan menuju surga seorang pemuda yang gagah, penamplan meyakinkan namun penuh sikap santun dan hormat. Pemuda itu berhadapan dengan malaikat. Malaikat bertanya, “Amal apa yang menyebabkan kamu masuk surga?” Pemuda itu dengan bahagia menjawab, “saya telah membaktikan hidup ini untuk Allah. saya melakukan banyak amal bagi manusia. saya isi kehidupan ini dengan amal-amal kebaikan.”
Malaikat kembali bertanya, “Bagaimana kamu mengetahui bahwa amal-amal yang kamu lakukan akan membawamu bertemu dengan Tuhan di surga ini?”. Pemuda tadi kembali tersenyum, “Al hamdulillah, saya dulu sekolah, sejak taman kanak-kanak. Saya bertemu dengan seorang guru yang begitu bijak, penuh perhatian dan kasih sayang. Beliau begitu ihlas membimbing saya. Kata beliau, “Nak, jadilah manusia yang penuh kasih sayang kepada sesama. Jika engkau mencintai manusia maka engkau akan dicintai Tuhan. Beliau mengajarkan banyak ilmu kepada saya sebagai pedoman beramal.”
Malaikat melanjutkan pertanyaannya, “O..jadi kamu bisa memperoleh kemuliaan ini karena jasa guru yang telah mengajarkan kamu banyak ilmu dan cinta?” Pemuda tadi mengangguk tanda menyetujui pernyataan malaikat penjaga surga. Malaikat ganti tersenyum, “Kalau engkau masuk ke surga karena bimbingan gurumu, maka engkau tidak berhak masuk ke surga sebelum gurumu terlebih dahulu masuk ke surga ini. Saya persilakan kamu menunggu giliran setelah gurumu.”
Pemuda tadi tersenyum lebih lebar nenandakan kebahagiaan yang begitu besar.I ia merasakan itu karena di surga ini ia akan dipertemukan dengan guru yang begitu besar jasanya. Ia bersyukur karena telah dipertemukan dengan orang mulia seperti itu.  Dalam hatinya ia berdoia, “Ya Allah, berikan tempat yang lebih mulia di surga-Mu bagi guruku. Aku rindu pada keihlasan dan Cintanya…amin”
Semoga keikhlasan Anda menjadi guru membawa Anda masuk ke dalam surga-Nya, amiin.

Selasa, 12 Mei 2015

Konversi Raport Kurtilas ke K 2006

Konversi Nilai Rapot Kur. 2013 ke Kurikulum 2006
                    Oleh : Fatkhul Wahab, S.Pd.I


Semester II TP 2014/2015 khususnya bagi madrasah menghadapi kenyataan kembali menggunakan KTSP 2006, kecuali mapel agama. Kendati Mapel Agama menggunakan kurtilas, tetapi penilaiannya menggunakan model K 2006.
Tulisan ini sedikit membantu rekan guru yang merasa kesulitan dalam menkorversi nilai semester I (nilai dalam aplikasi rapot) yang berupa deskripsi ke dalam bentuk kuantitatif. Tutorial ini menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh Kemenag yang sempat beredar pada saat pembuatan raport semester I.
Konsep sederhana dalam konversi ini adalah mengambil nilai  dalam leger aplikasi (leger KI-3 & KI-4)  untuk diubah menjadi nilai sesuai Kur. 2006. langkah-langkahnya adalah sbb. :
1. Buka aplikasi raport Kemenag. 


2. Siapkan file excel yang berbeda di samping aplikasi, klik tombol kompetensi => Aspek Pengetahuan  sehingga tampil seperti gambar di bawah ini


3. Klik mata pelajaran (dalam contoh ini adalah mapel Aqidah Akhlaq) kemudian letakkan kursor pada nilai dibawah KD kemudian copy. 
 

4. Copy data dari KI-3(mapel Aqidah Akhlaq) dengan klik kanan=> paste special=> paste link  di file excel yang lainnya . seperti pada gambar.

          

5 Dengan langkah yang sama, kembali ke menu awal, klik Kompetensi Keterampilan (KI-4) =>mapel Aqidah Akhlaq => Copy nilai KD 4.1 dst =>paste special di samp[ing data copy an KI-3. gambar akhir sbb.
              

6. Carilah rata-ratanya dengan menggunakan fungsi Average tarik kursor ke bawah ketiak muncul simbol +. nilai dalam warna hijau adalah nilai jadi yang akan dimasukkan ke dalam raport K.2006.



7. Lakukan hal yang sama pada semua mapel 
8. Jika Bapak Ibu guru kesulitan menggunakn paste special, bisa menggunakan paste value.

 semoga tulisan ini bermanfaat